You Might Also Like

Tampilkan postingan dengan label TKI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TKI. Tampilkan semua postingan

Jalur Mandiri TKI Sering Disalahgunakan



Berdasarkan Permenakertrans No.16/2012 tentang Tata Cara Kepulangan Tenaga Kerja Indonesia secara Mandiri ke Daerah Asal, memperbolehkan para TKI untuk pulang lewat jalur mandiri tanpa harus ke Terminal khusus TKI yang ada di area Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten.
Akan tetapi jalur mandiri itu malah disalahgunakan oleh oknum tidak bertanggung jawab untuk memeras TKI. Hal itu diakui Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Mohammad Jumhur Hidayat.
"Masih saja ada oknum-oknum yang melarang lewat jalur pemerintah. Mereka bilang jalur pemerintah sudah ditutup, jadi harus lewat mandiri. Ada yang bohongin seperti itu," ujar Jumhur kepada wartawan usai buka bersama dengan TKI di Terminal Khusus TKI, Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Rabu (31/7/2013) malam.
Akibatnya, kata Jumhur banyak TKI yang percaya dan terkena kasus penipuan seperti ditipu taksi gelap, tidak sedikit yang dibius dan kemudian diambil uangnya. Bahkan ada yang tidak sampai di rumahnya.
"Tidak sedikit orang yang menganggap TKI itu masih bisa menjadi obyek penipuan," akunya.
Jumhur menjelaskan, pihaknya tidak bisa mengontrol para TKI yang menggunakan jalur Mandiri. Sehingga bila terjadi kasus dimintai uang sampai jutaan rupiah atau dibius, pihaknya tidak mengetahui.
Padahal, kata Jumhur, dengan diperbolehkannya TKI pulang jalur Mandiri diharapkan mereka merdeka , bebas, aman sampai di rumah." Itu yang kita harapkan," ujarnya.

Sumber : http://wartakota.tribunnews.com/

Pulang dari Taiwan TKW Dibuang di Tol



Nasib nahas menimpa Castri Utami (30). Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang baru pulang dari Taiwan, ini dibius dan dirampok orang tak dikenal, Jumat (21/6). Padahal, niat Castri sekembalinya ke kampung halamannya, Cikakak, Bandarharjo, Brebes, Jawa Tengah, ingin membahagiakan anak tunggalnya, Cindy Fatikasari (10).
Namun, kini harta benda dan uang hasil keringatnya menjadi pembantu rumah tangga di Taiwan itu, raib. Castri ditemukan tak sadarkan diri di KM 5, tol Taman Mini Indonesia Indah, Makasaar, Jakarta Timur, Jumat (21/6) pukul 22.15 WIB oleh petugas kepolisian. Kemudian dia dilarikan ke Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur.
Ketika ditemui Wartakota, di ruang perawatan RS Polri Kramat Jati, Sabtu (22/6) siang, Castri tak berdaya terbaring di atas kasur pasien. Pelipis kirinya tampak lebam. Begitu juga dengan bibirnya yang terlihat pecah. Ia pun mengaku masih pusing dan lemas.
Ia mengenakan kaos putih dengan motif lingkaran-lingkaran kecil hijau. Tubuhnya ditutupi selimut hijau. Wajahnya pucat, jarum infus pun tampak menghiasi tangan kanannya. Saat itu ia ditemani oleh pamannya, Tarwad (41). Dengan suara yang cukup berat, Castri menceritakan kronologi kejadian yang menimpanya.
Menurut Castri, saat itu ia baru saja pulang bekerja sebagai pembantu dari Taiwan dimana ia bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Saat menumpang pesawat dari Taiwan menuju Jakarta, ia bertemu dengan Tami yang berusia sekitar 30 di dalam pesawat.
Di dalam pesawat mereka berkenalan. Tami mengaku bekerja sebagai TKW juga di Taiwan. Tami juga mengaku akan pulang ke kampung halamannya di Plumbon, Cirebon. Mereka tiba di Bandara Soekarno-Hatta Tangerang, Jumat (21/6) pukul 14.00. Saat itu Castri hendak dijemput oleh orangtuanya Darmanto (50) dan ibunya, Sarsem (40). "Pas sampai di bandara saya telepon bapak saya, tapi katanya baru bisa sampai sore bahkan malam, karena lagi macet banget," kata Castri.
Castri pun memutuskannya menunggu di sebuah restoran cepat saji di bandara. Tami ketika itu turut bersama Castri. Tami mengaku sedang menunggu jemputan dari keluarganya. "Nah pas di restoran itu ada laki-laki datang yang bawa tas banyak juga, dia kenalan sama kami di restoran," cerita Castri.
Ridwan, laki-laki berusia sekitar 30-an itu memperkenalkan diri. Ridwan juga mengaku TKI yang baru pulang dan menunggu dijemput oleh kerabatnya. Ridwan mengaku akan pulang ke Arjawinangun, Cirebon
Setelah berbincang-bincang, Ridwan menawarkan tumpangan jemputannya.
Castri yang enggan menunggu itu akhirnya menelepon keluarganya untuk menjemput di stasiun Gambir. "Tapi saat itu, bapak sebenarnya udah ngelarang, tapi saya tetap minta buat dijemput di Gambir saja, karena macet, dan saya takut nunggu di bandara lama-lama," ujarnya.
Sementara, Castri duduk di bangku tengah, dengan posisi Ridwan duduk di samping kanan dan Tami di samping kiri. "Saya nggak curiga sama sekali, apalagi ada Tami juga yang nggak kenal mereka, lagian mereka juga baik-baik aja," lanjutnya.
Diperjalanan dia dikasih jamu berwarna putih. "Saya sempat nolak karena nggak doyan jamu, tapi si Ridwan harus minum biar nggak masuk angin, ya sudah saya minum, karena saya lihat Tami dan keneknya juga minum jamu itu, rasanya pahit," ceritanya.
Lalu mereka melanjutkan perjalanan dan masuk ke dalam tol kembali. Namun, tak berapa lama kemudian, Castri merasa mengantuk. Perlahan ia pun justru terlelap tidur. "Sadar-sadar saya udah di atas kasur lagi didorong-dorong di rumah sakit, saya pikir saya kecelakaan, tapi Tami dan Ridwan nggak ada, saya nggak sama sekali terasa dibuang ke pinggir tol," katanya.
Saat itu juga ia baru sadar barang-barangnya hilang yaitu uang 3.000 Taiwan dolar, 320 dolar Amerika, 3 ponsel, 1 iPad, perhiasan kalung, gelang, serta anting, dan 1 koper berisi pakaian dan makanan "Saya yakin Tami dan Ridwan pelaku yang merampok saya, dia bius saya pakai jamu itu," jelasnya. (suf)

Sumber: Warta Kota Edisi Minggu, 23 Juni 2013

 

Muhaimin Minta TKI Arab Saudi Waspadai Penipuan



Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar mengimbau para TKI yang sedang mengurus dokumen perbaikan status tenaga kerja ilegal menjadi legal di Arab Saudi agar mewaspadai adanya upaya penipuan dengan meminta imbalan uang untuk proses pengurusan dokumen.
“Saya tegaskan, tidak ada biaya apapun dari TKI dalam pengurusan dokumen perbaikan status kerja di Arab Saudi. Semua prosedur pelayanan dokumen perbaikan status kerja diberlakukan dengan gratis, “ kata Muhaimin Iskandar dalam keterangan pers di Jakarta.
Muhaimin mengatakan telah menerima laporan adanya selebaran gelap dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab yang mencoba menipu dengan dalih untuk mempercepat proses pengurusan dokumen.
“Para TKI yang sedang mengurus dokumen perbaikan status tenaga kerja ilegal menjadi tenaga kerja legal dan ingin bekerja kembali di Arab Saudi hanya diwajibkan melengkapi syarat pengurusan ijin kerja di Arab Saudi TKI tanpa dipungut biaya apapun,” kata Muhaimin.
“Saya telah menginstruksikan kepada Atase Tenaga Kerja di KJRI Jeddah dan KBRI Riyadh di Arab Saudi untuk menyosialisasikan hal ini kepada para TKI dan segera menindaklanjuti dengan mengambil langkah langkah pencagahan terhadap upaya-upaya penipuan ini.
Terkait dengan adanya biaya sebesar 3.900 real untuk mengurusan ijin kerja di Arab Saudi, Muhaimin memastikan biaya itu wajib dibayarkan oleh pengguna TKI di Arab Saudi yang ingin menggunakan jasa TKI kembali dan dipastikan biayanya bukan berasal dari TKI.
“Bagi perusahaan PPTKIS yang terbukti melakukan pelanggaran dan melakukan pungutan secara liar dalam pengurusan dokumen perbaikan status kerja , saya tidak akan segan- segan untuk menjatuhkan sanksi tegas dan mencabut ijinnya, “ kata Muhaimin.
Pemerintah Arab Saudi sendiri telah mengeluarkan edaran resmi terkait masalah ini.
Mereka telah mengeluarkan kebijakan yang berbentuk edaran yang ditujukan kepada semua perusahaan, perorangan dan tenaga kerja asing (ekspatriat) agar segera memperbaiki pelanggaran peraturan ketenagakerjaan dan ijin tinggal sebelum berakhirnya masa tenggang pada 3 Juli 2013.

Sumber : http://wartakota.tribunnews.com/

TKI Tak Perlu ke Terminal IV



Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten memiliki empat buah terminal untuk mengatur penerbangan. Terminal I khusus untuk penerbangan domestik, Terminal II dan III Untuk penerbangan domestik dan internasional. Sedangkan Terminal IV merupakan terminal khusus TKI. Para TKI yang baru tiba dari negara tempat mereka bekerja, biasanya transit ke Terminal IV untuk di data oleh BNP2TKI.
Terminal IV terletak di daerah Selapajang, Tangerang, Banten. Kondisinya agak seram jauh berbeda dibandingkan dengan tiga terminal lainnya, kondisi Terminal IV beda dengan terminal lainnya.
Selain tempatnya paling jauh dibandingkan terminal yang lain, di sini tertutup pagar besi. Pintu gerbang dijaga dua petugas satpam. Di sini hanya tersedia satu tempat makan yang lokasinya dekat gerbang masuk. Situasi di halaman depan terminal sangat sepi.
Untuk bisa mencapai Terminal IV harus menggunakan kendaraan pribadi atau ojek yang biasa mangkal di setiap terminal atau di Pintu M1 yang merupakan gerbang masuk ke Bandara. Para tukang ojek pun tidak segan meminta tarif tinggi bila ada penumpang yang ingin kesana.
"Tarifnya Rp 30 ribu, Mas. Udah biasa itu. Soalnya jauh tempatnya," kata Parmin, salah satu tukang ojek kepada Warta Kota di Terminal II Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (18/6).
Sementara petugas Humas Angkasa Pura II Bandara Soekarno Hatta, Yudis Setiawan mengatakan, tidak setuju bila tempat khusus TKI tersebut disebut terminal. "Bukan. Terminal itu kan harus ada aktifitas dan rute penerbangan. Tempat itu merupakan tempat penampungan dan pendataan TKI," ujar Yudis Setiawan, saat dihubungi Wartakota.
Ia mengatakan tempat tersebut bukan diurus oleh pihaknya melainkan oleh Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans) dan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI). "Yang mengurus tempat itu bukan Angkasa Pura II melainkan Kemenakertrans dan BNP2TKI," katanya.
Staf Khusus Mennakertrans Bidang Tenaga Kerja, Dita Indah Sari mengatakan, para TKI yang baru pulang dari luar negeri tidak perlu melalui terminal ini. Namun dia tak menampik masih banyak TKI yang tiba dari luar negeri kemudian transit ke Terminal Selapajang. Menurutnya, sosialiasi Permennakertrans 16/2012 kepada TKI memang masih harus digalakkan. "Bisa jadi memang sosialisasi masih kurang, karena peraturan ini juga masih terbilang baru," bilang Dita.
Menurut Dita, TKI yang memilih transit karena memiliki beragam masalah. "Bisa saja para TKI itu transit ke Selapajang karena beragam alasan, seperti kepulangannya bermasalah, nggak dijemput keluarganya, atau datangnya tengah malam," ucapnya.
Masih penting
Sementara itu, meski para TKI tak wajib lagi melalui Terminal Selapajang, menurut Dita keberadaan terminal di bawah naungan BNP2TKI itu masih penting. "Sekarang kan fungsinya sudah dibatasi, tetapi di sana juga ada fasilitas-fasilitas penting untuk TKI, seperti fasilitas dokter, ambulans, bisa menginap, ada fasilitas konter asuransi. Kalau ada masalah tinggal kesitu," kata Dita.
Mengapa fasilitas-fasilitas itu tak dipindahkan saja ke Terminal 2D? "Bisa saja dipindah ke Terminal 2D fasilitasnya, tetapi kan selama ini sudah ada di Termonal 4. Kita kan nggak mau campur antara yang bermasalah dengan yang tidak," ujar Dita.
Menurut Dita, untuk memberantas praktik pungli yang ditengarai terjadi di Terminal 4, tak harus dengan cara menghilangkan atau menghancurkan terminal tersebut. "Jika ada orang yang bermasalah di dalam sebuah kelurahan, kan bukan berarti satu kelurahan itu harus dihancurkan, melainkan orangnya yang harus dicari. Begitu juga di Terminal Selapajang. Bukan terminalnya yang ditiadakan, tetapi membasmi oknum yang berbuat kejahatan di sana. Selama ini kita konsisten membasmi pungli," kata Dita. (m13/gps)

Sumber: Warta Kota Edisi Rabu, 19 Juni 2013
Sumber : http://wartakota.tribunnews.com/

Dikerjai Sopir Travel



Watermark image
Penderitaan para TKW tak hanya dirongrong para calo di Bandara Soekarno-Hatta (Soetta). Pantauan Warta Kota, sopir-sopir travel pun atau koordinator angkutan travel juga memanfaatkan kepolosan para TKW.
Salah satunya adalah WR (46), koordinator untuk enam perusahaan angkutan travel di Terminal IV. Setiap hari WR dan rekan-rekannya nongkrong di Kantin Terminal IV.
Kondisi kantinnya buruk. Hanya ada dua pedagang makanan di situ. Lantai kantin kotor dan terletak di belakang toilet.
WR sudah seperti sahabat dengan para petugas di Terminal IV. Petugas-petugas di sini saling sapa dengan WR. Bukan cuma itu, apabila WR mendapat 'klien', WR akan menyuruh kepala security untuk mencaritahu apakah TKW yang hendak dijemput sudah datang atau belum.
Seperti pada Kamis (13/6), ketika diminta mencarikan nama TKW dengan penerbangan maskapai Fly Emirates dari Dubai, WR memanggil kepala security Terminal IV yang tampak lebih tua darinya untuk mencarikan nama yang diminta. Sambil memberi hormat, kepala security itupun menjalankan perintah WR. Tak lama, kepala security berkumis itupun sudah membawakan TKW yang dicari.
Apabila ada penjemput TKW yang kepalang datang ke Terminal IV, WR akan meminta imbalan untuk ganti alamat agar TKW bisa diturunkan dari mobil travel di tengah perjalanan.
Untuk ganti alamat, WR meminta uang jasa Rp 140.000. Lalu nantinya TKW yang hendak turun di tengah perjalanan agar bisa pulang bersama keluarganya mesti memberi uang ke sopir travel Rp 200.000-Rp 300.000. "Kalau ke sopir, ya kasih lah. Biar sama-sama enak, agar tak ada yang ngedumel," kata WR kepada Warta Kota.
Aturan bagi TKW yang melalui Terminal IV memang harus pulang sampai ke rumah sesuai alamat paspor memakai angkutan Travel yang disediakan BNP2TKI tersebut. Makanya calo dan sopir mengambil celah itu.
Calo menarik uang untuk ganti alamat. Sedangkan sopir menarik uang jasa untuk bersedia menurunkan TKW di tengah perjalanan.
Namun, tak semua petugas di Terminal IV punya pikiran licik. Beberapa petugas yang masih berusia muda kerap mengampiri keluarga TKW yang datang menjemput di Terminal IV. Mereka menjelaskan bahwa tak perlu lagi menggunakan jasa calo di Terminal IV.
"Kalau sudah kepalang basah masuk ke Terminal IV, ya lebih baik biarkan TKW-nya pulang ke rumah dengan mobil travel saja ketimbang diturunkan di jalan. Calo di sini banyak bohongnya, mereka bekerja sama dengan security. Kalau mau jemput, ya, jemput saja di Terminal 2D," kata seorang petugas yang baru setahun bekerja di Terminal IV.
Pantauan Warta Kota, kondisi Terminal IV memang tak bagus. Monitor-monitor penyampai informasi seluruhnya tak berfungsi. TKI yang mesti menunggu berjam-jam hanya duduk di kursi-kursi besi panjang.
Lantaran terlalu lama, TKI yang sakit duduk di kursi memilih menggelar koran. Mereka juga hanya bisa memesan makanan dari satu kios makanan yang ada di Terminal IV.
Terminal IV ini lokasi terpencil. Untuk mencapai terminal ini jalannya gelap, kecil, dan berkelol-kelok. Kiri kanannya adalah persawahan dan sungai. Dari lokasi masuk ke Terminal IV ini terlihat jelas pesawat yang hendak take off ataupun landing. (ote/gps/m13)

Sumber: Warta Kota Edisi Senin, 17 Juni 2013

 

Calo Bandara Keruk Rp 1,5 Miliar


Asep (40) dan Burhan (38), warga Subang, Jawa Barat, terpaksa menggunakan jasa calo Terminal 2D, Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta), Cengkareng, Tangerang, Banten agar kerabatnya, Yeni (28), tenaga kerja wanita (TKW) asal Subang, Jawa Barat, bisa langsung pulang, Rabu (12/6).
Yeni yang sudah sembilan tahun terkurung di Arab Saudi, Rabu (12/6) pekan lalu mendarat di Bandara Soetta. Selain Asep dan Burhan, ada empat keluarga lain yang ikut menjemput Yeni. Dengan membayar Rp 500.000, Yeni yang turun dari pesawat Fly Emirates, tak lagi digiring ke Terminal IV dulu untuk menjalani pemeriksaan di sana, melainkan bisa langsung pulang bersama keluarganya. "Kasihan kalau harus menunggu lama di Terminal IV, soalnya ada yang bilang bisa lebih dari 5 jam menunggunya," kata Asep.
Betul saja, sekitar pukul 14.00, Asep dan keluarga lain yang menunggu di Terminal 2D melihat Yeni dikawal dua orang petugas berpakaian safari muncul dari dalam terminal. Begitu tiba di parkiran mobil, perempuan yang mengenakan jilbab ini lekas menghampiri keluarganya sambil menangis.
Yeni juga terkaget-kaget melihat dua anak adiknya yang sudah besar. Dia mencium kedua anak yang kelihatan kebingungan saat melihat Yeni. Terang saja bingung, kedua anak itu belum lahir saat Yeni terbang ke Arab Saudi.
Sementara Yeni berpeluk-pelukan, Asep memberikan lima lembar uang pecahan ratusan ribu kepada kedua pengantar Yeny. Setelah itu, Yeni segera masuk mobil. Tak mau berlama-lama, dia pun meminta untuk segera pergi.
Yeni dan keluarganya itu hanyalah salah satu Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang terpaksa harus membayar calo agar bisa langsung keluar terminal tanpa harus berlama-lama menunggu. Menurut informasi, setiap harinya minimal 100 TKW/TKI tiba di Bandara Soetta. Para TKW/TKI itu umumnya memakai jasa calo agar bisa segera keluar bandara.
Dengan demikian, kalau dijumlahkan maka dalam sehari para calo akan memperoleh 100 X Rp 500.000=Rp 50.000.000 atau dalam sebulan sekitar Rp 1,5 miliar. "Itu kalau kita rata-rata 100 TKI/TKW yang datang sehari, tetapi sebenarnya jumlahnya lebih besar dari itu," ujar sumber Warta Kota saat ditemui di bandara pekan lalu
Sudah dihapus
Menurut keterangan yang diperoleh Warta Kota, peraturan TKI dari barutiba di Bandara Soetta harus dibawa ke Terminal IV setelah mendarat sebenarnya sudah dihapus sejak Oktober 2012. Aturan itu dihapus pemerintah guna menghilangkan praktik percaloan. Kini hanya TKI yang sakit atau pulang meninggal saja yang harus dibawa ke Terminal IV.
Namun, meski aturan itu sudah dihapus, praktik percaloan masih tetap subur. Modus-modus lama pun masih dilakukan. Tapi incarannya kini adalah TKI yang baru pertama kali pulang dan belum mengerti aturan tersebut.
Tak adanya informasi soal aturan bahwa para TKI tak perlu ke Terminal IV lebih dulu dimanfaatkan para calo-calo ini untuk melakukan praktik kurang terpujinya.
Dalam praktiknya, para calo dan petugas bandara berkomplot untuk mensamarkan informasi bahwa TKI bisa keluar langsung di Terminal 2D. Makanya kemudian TKI menggunakan jasa calo agar mereka bisa keluar melalui Terminal 2D dengan syarat membayar antara Rp 500.000-Rp 700.000.
Karena bekerja sama dengan oknum petugas di Terminal 2D, sehingga para calo yang penampilanya perlente itu bisa dengan bebas masuk sampai ke lokasi pengambilan barang penumpang. "Kalau misalnya Mas mau keluarkan sepupu atau saudara, saya bisa saja berikan nomor ponsel teman saya yang bertugas di Terminal 2D. Tapi, nantinya teman saya ini akan mengarahkan Mas untuk berkomunikasi dengan calo. Doyan duit semua petugas di sana (bandara)," kata sumber Warta Kota di Terminal IV, Jumat (14/6) malam.
Ada dua cara mengelabui TKI yang baru pertama kali pulang ke Indonesia di Terminal 2D. Cara pertama adalah melalui calo-calo yang berkeliaran di tempat pengambilan barang. Mereka akan menakut-nakuti TKI baru dan menceritakan repotnya kalau mesti ke Terminal IV dulu.
Tapi, sebenarnya informasi dari calo inipun tak terlalu salah, sebab sistem angkutan di Terminal IV memang kacau. Seorang TKI yang sudah mendarat sejak pagi hari baru bisa keluar dari Terminal IV pada malam hari. Penyebabnya, angkutan Travel hanya mau mengangkut apabila jumlah penumpang sudah ada di batas maksimal, yakni 10 orang dan semuanya ke tujuan kota yang sama.
Makanya, TKI kemudian banyak memilih keluar di Terminal 2D setelah mendengar cerita itu. Ironisnya petugas bandara pun banyak yang ikut-ikutan mengelabui TKI.
Namun, bagi TKI yang sudah tahu soal aturan tersebut, petugas maupun para calo tak berani lagi memengaruhinya. "Yang penting tegaskan pada mereka bahwa aturan itu tidak ada lagi," kata sumber Warta Kota.
Dekati keluarga
Kemudian modus kedua para calo beraksi di luar terminal. Calo-calo ini akan mendekati keluarga-keluarga TKI yang datang menjemput ke bandara. Seperti yang dialami Asep dan Burhan. Mereka akan mengelabui keluarga TKI bahwa semua TKI harus ke Terminal IV lebih dulu. Apabila mau keluar di Terminal 2D harus menggunakan jasa mereka (calo,-red).
Bagi keluarga yang percaya akan memakai jasa calo tersebut. Apabila sudah setuju, keluarga akan diminta nama TKI dan pesawatnya. Begitu turun calo sudah menjemput dan mengarahkan TKI. Calo yang mencari order dari keluarga ini nantinya akan memberi informasi ke calo yang berada di dalam Terminal 2D.
Diakui Kemennakertrans
Pihak Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemen­nakertrans) mengakui masih ada praktik pungutan liar (pungli) di areaal Bandara Soetta terhadap TKI yang baru datang dari negara tempatnya bekerja. "Hingga kini pengaduan pungli soal para TKI dimintain uang memang banyak," kata Staf Khusus Mennakertrans Bidang Tenaga Kerja, Dita Indah Sari, kepada Warta Kota, Jumat (14/6).
Dita tak mau berspekulasi apakah pungli itu dilakukan oleh petugas bandara atau oknum Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) yang bertugas di bandara. Yang jelas, tuturnya, kejahatan itu dilakukan oknum tak bertanggungjawab. "Oknum seperti itu memang harus dibasmi," ucapnya.
Menurut Dita, praktik pungli terhadap TKI di bandara bukan hal baru. Kemennakertrans dan BNP2TKI, katanya, tetap berusaha memberantas praktik kotor ini.
Ia pun mengajak TKI yang menjadi korban agar ikut membasmi praktik pungli dengan cara melaporkannya ke petugas. "Kalau ada praktik seperti itu, TKI harus melaporkan identitas pelakunya, kapan kejadiannya, dan jenis punglinya seperti apa," ujar mantan aktivis buruh itu.
Masalahnya, lanjut Dita, meski pihaknya dan BNP2TKI sering menerima laporan praktik pungli, para korban kerap kali tak menyertakan identitas oknum yang melakukan pemerasan. "Seringkali mereka (TKI) nggak bisa menjelaskan identitas pelakunya. Ini yang membuat kita agak kesulitan untuk menindak pelaku pungli itu," ujarnya. (ote/gps/m13)

Sumber: Warta Kota Edisi Senin, 17 Juni 2013
Sumber : http://wartakota.tribunnews.com

TKW Asal Cilacap Dilaporkan Hilang di Malaysia

Seorang tenaga kerja wanita asal Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Turyani (31), yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Malaysia sejak 1997, saat ini dilaporkan hilang karena tidak diketahui keberadaannya.

"Anak kedua saya berangkat ke Malaysia pada 1997 saat dia masih berusia 18 tahun. Namun hingga sekarang, saya tidak pernah mengetahui keadaannya," kata ibunda Turyani, Tasem (57), saat ditemui wartawan di rumahnya, Desa Bulaksari, Kecamatan Bantarsari, Cilacap, Sabtu.

Menurut dia, Turyani berangkat ke Malaysia melalui sponsor yang datang ke desanya untuk mencari pembantu rumah tangga.

Bahkan, kata dia, keluarga juga tidak mengetahui nama perusahaan penempatan tenaga Indonesia swasta (PPTKIS) yang memberangkatkan Turyani ke Malaysia.

Sementara ayah Turyani, Rasimin (60), mengatakan, berbagai upaya telah dilakukan keluarga untuk mencari keberadaan anak keduanya ini.

"Kami telah meminta bantuan tetangga yang bekerja sebagai TKW di Malaysia termasuk mencari sponsor yang memberangkatkan Turyani. Akan tetapi hingga saat ini, kami belum berhasil memperoleh kabar tentang Turyani," katanya.

Terkait hal itu, dia mengharapkan pemerintah turut membantu mencari keberadaan Turyani dan segera memulangkannya dengan keadaan selamat agar bisa kembali berkumpul dengan keluarga.

Secara terpisah, Kepala Seksi Penempatan Tenaga Kerja Dalam dan Luar Negeri Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Cilacap Sutiknyo mengatakan pihaknya belum menerima laporan mengenai dugaan hilangnya Turyani.

Kendati demikian, dia mengatakan, pihaknya akan berupaya membantu dengan menghubungi Kedutaan Besar Republik Indonesia di Malaysia.

"Kami akan coba menghubungi KBRI di Malaysia," katanya melalui telepon seluler. 
Sumber : antarajateng 

Derita Dua TKI Sepulang dari Negeri Rantau

Liputan6.com, Surabaya: Tak hanya Sumiati yang menerima penyiksaan yang dilakukan terhadap tenaga kerja Indonesia. Haryatin, TKI asal Blitar, Jawa Timur, buta sepulangnya dari Riyadh, Arab Saudi. Ia disiksa tanpa alasan yang jelas hingga mengalami kebutaan karena matanya sering dicolok dengan kayu. Beruntung, masih ada yang peduli dan membantu operasi salah satu matanya.

Derita hampir serupa dialami Kuswati. TKI asal Banyuwangi, Jawa Timur, ini sering disiksa selama sepuluh tahun bekerja di Malaysia. Kepalanya dibenturkan ke tembok dan separuh badannya lumpuh. Kuswati sekarang tinggal di sebuah gubuk kayu dan menghabiskan harinya dengan bantuan saudara.

Tak hanya Haryatin, Kuswati, atau Sumiati, masih banyak TKI yang bernasib sama. Namun, hal seruapa jarang terjadi atau terdengar dari buruh migran dari negara lain, seperti Filipina yang juga sering mengirimkan tenaga kerja ke beberapa negara.(MRQ/ANS)

Banyak Warga Dompu Bernasib Seperti Sumiati

Liputan6.com, Sumbawa: Penyiksaan yang dialami Sumiati dari Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat dialami pula oleh Dahlia. Namun tenaga kerja Indonesia asal Desa Jala, Kecamatan Huu, Dompu pulang dalam kondisi tak bernyawa. Informasi yang dirangkum SCTV, Rabu (17/11), korban meninggal usai disekap di kamar mandi dan diberi makan pisang hingga beberapa hari.

Dua hari sebelum tewas, Dahlia yang bekerja di Arab Saudi sempat menghubungi ayahnya. Ia mengabarkan sedang berada dalam bahaya karena disekap di kamar mandi.

Nasib tragis dialami pula ibunda Darma asal Desa Jala. Sang bocah kehilangan Juharnini, ibunya yang bekerja di Arab Saudi selama empat tahun. Bahkan saat adik Juharnini meregang nyawa pada 2007, sang ibu tak pulang.

Duka juga dirasakan Madlan, Timu, dan Nurmi yang juga warga Desa Jala. Selama dua hingga tiga tahun, anak mereka yang pergi bekerja di Arab Saudi yakni Sri Endang, Yuliani, dan Sofiyayuti tak ada kabar.(AIS)

Advertisements

YOUR GOOGLE ADSENSE CODE HERE (300x250)

Advertisements

YOUR GOOGLE ADSENSE CODE HERE (300x250)