Meski berbagai peraturan terkait pemasangan alat peraga kampanye
(APK) telah diterbitkan, namun para calon anggota legislatif (caleg) dan
partai politik (parpol) peserta Pemilu 2014 di Kabupaten Purworejo
masih banyak yang mengabaikan. Bahkan diantaranya banyak yang memasang
APK baru yang menyalahi aturan.
Menurut Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Purworejo Drs Dulrokhim,
pihaknya sudah mengirimkan surat kepada masing-masing parpol, agar
mereka menertibkan sendiri APK itu. “Tapi kalau dalam sepekan tetap
tidak ada perubahan, kita akan lakukan koordinasi dengan pemerintah
kabupaten (Pemkab) untuk menertibkan APK,” katanya kepada wartawan,
Selasa (5/11).
Dalam Peraturan KPU (PKPU) No 15 Tahun 2013, pemasangan APK sudah
diatur, bahkan di Purworejo sudah ditindaklanjuti dengan SK KPU dan
Perbup Nomor 8 Tahun 2013, yang mengatur tempat dan larangan untuk
pemasangan APK. Termasuk didalamnya zona pemasangan APK yang ditetapkan
per desa/kelurahan.
Dalam peraturan itu, penertiban APK menjadi kewenangan KPU dan
pemerintah daerah serta aparat keamanan. “Kita akan segera melakukan
koordinasi agar berbagai pelanggaran ini segera teratasi,” jelas
Dulrokhim.
Tampilkan postingan dengan label Purworejo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Purworejo. Tampilkan semua postingan
761 MBR Terima BSPS
Sebanyak 761 masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) se Kabupaten
Purworejo akan menerima bantuan stimulan perumahan swadaya (BSPS)tahun
2013. Mereka dikumpulkan di lapangan tenis indoor kompleks rumah dinas
Bupati Purworejo, Kamis (24/10)untuk mendapat sosialisasi dari
Kementerian Perumahan Rakyat, agar bantuan tersebut tidak disalah
gunakan.
Sebelumnya, secara simbolis perwakilan penerima BSPS juga telah mendapat pengarahan dari Ir Jamil Ansari selaku Deputi Perumahan Swadaya Kementerian Perumahan Rakyat Republik Indonesia dan anggota DPR RI Ir Sudjadi. Program BSPS ini merupakan bantuan untuk membangun rumah warga miskin agar layak huni dan sehat. Bantuan dari pemerintah pusat melalui Kementerian Perumahan Rakyat ini, besarnya masing-masing Rp 7.500.000 per unit.
“Bantuan ini menunjukkan bahwa pemerintah memiliki komitmen yang kuat untuk mengurangi jumlah rumah tidak layak huni. Salah satu program untuk mengurangi jumlah rumah tidak layak huni tersebut adalah melalui program BSPS,” Kata Bupati Purworejo Drs H Mahsun Zain MAg.
Menurutnya, BSPS merupakan fasilitasi pemerintah berupa bantuan sosial kepada masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). “MBR merupakan masyarakat yang mempunyai keterbatasan daya beli sehingga perlu mendapat dukungan pemerintah untuk memperolah rumah yang layak huni.” Jelasnya.
Di Purworejo BSPS sudah berjalan sejak tahun 2011 sebanyak 400 MBR, tahun 2012 meningkat menjadi 1.676 MBR, dan tahun ini juga mengalami peningkatan.
Sumber : http://www.purworejokab.go.id/news/seputar-ekonomi/2284--761-mbr-terima-bsps
Sebelumnya, secara simbolis perwakilan penerima BSPS juga telah mendapat pengarahan dari Ir Jamil Ansari selaku Deputi Perumahan Swadaya Kementerian Perumahan Rakyat Republik Indonesia dan anggota DPR RI Ir Sudjadi. Program BSPS ini merupakan bantuan untuk membangun rumah warga miskin agar layak huni dan sehat. Bantuan dari pemerintah pusat melalui Kementerian Perumahan Rakyat ini, besarnya masing-masing Rp 7.500.000 per unit.
“Bantuan ini menunjukkan bahwa pemerintah memiliki komitmen yang kuat untuk mengurangi jumlah rumah tidak layak huni. Salah satu program untuk mengurangi jumlah rumah tidak layak huni tersebut adalah melalui program BSPS,” Kata Bupati Purworejo Drs H Mahsun Zain MAg.
Menurutnya, BSPS merupakan fasilitasi pemerintah berupa bantuan sosial kepada masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). “MBR merupakan masyarakat yang mempunyai keterbatasan daya beli sehingga perlu mendapat dukungan pemerintah untuk memperolah rumah yang layak huni.” Jelasnya.
Di Purworejo BSPS sudah berjalan sejak tahun 2011 sebanyak 400 MBR, tahun 2012 meningkat menjadi 1.676 MBR, dan tahun ini juga mengalami peningkatan.
Sumber : http://www.purworejokab.go.id/news/seputar-ekonomi/2284--761-mbr-terima-bsps
Susun Buku Indonesia Raya, Tim Kemsetneg RI Kunjungi Somongari
im penyusun buku Sejarah Penciptaan, Simbol, Arti dan Makna serta
Penggunaan Lagu Indonesia Raya dari Kementerian Sekretariat Negara
(Kemsetneg) RI melakukan kunjungan di Kabupaten Purworejo, Selasa
(8/10). Tim yang dipimpin Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Kesra Prof Dr
Sihol Situngkir MBA itu, diterima Bupati Purworejo Drs H Mahsun Zain MAg
di ruang Otonom Setda.
Usai paparan dan dialog, dilanjutkan meninjau lokasi kelahiran WR Soepratman di Desa Somongari Kecamatan Kaligesing, didampingi Kepala Dinas P dan K, Kabag Kesra, Camat Kaligesing, Ketua Komunitas Sejarah dan budayawan Soekoso DM.
Anggota tim Prof Dr H Dadan Wildan MHUm mengungkapkan bahwa sampai saat ini tidak ada bukti faktual tentang kelahiran WR Soepratman, apakah di Somongari atau di Jatinegara. “Yang ada hanyalah penafsiran-penafsiran serta keterangan dari saksi-saksi hidup,” ujarnya.
Namun demikian, pihaknya cenderung berpegang pada putusan Pengadilan Negeri Purworejo yang telah menetapkan bahwa WR Soepratman lahir di Dusun Trembelang, Desa Somongari, Kecamatan Kaligesing Kabupaten Purworejo pada tanggal 19 Maret 1903. “Hasil sidang pengadilan itulah yang dianggap sebagai pemutus, meskipun sebenarnya sejarah tidak bisa diputuskan oleh pengadilan,” katanya.
Bupati Purworejo Drs H Mahsun Zain MAg mengungkapkan bahwa kedatangan tim dari Kemsetneg merupakan hal yang luar biasa. Karena upaya untuk meluruskan sejarah WR Soepratman ternyata mendapat respon, dengan langsung melakukan crosscek ke Purworejo.
Diungkapkan Bupati, pihaknya sudah berkirim surat ke berbagai pihak mengenai pelurusan sejarah WR Soepratman, namun hanya dua yang memberikan tanggapan dan mendukung pelurusan. “Lainnya tidak memberikan tanggapan, padahal kata orang jawa kalau diam itu berarti setuju,” selorohnya.
Ia berharap, buku-buku sejarah yang menyatakan WR Soepratman lahir di Jatinegar, bisa segera diluruskan. “Kalau kita yang membuat surat, banyak yang tidak menanggapi, tapi kalau yang membuat surat Sekretaris Negara, pasti lebih ‘mandi’,” katanya.
Sumber : http://www.purworejokab.go.id/news/seputar-olahraga/2275-susun-buku-indonesia-raya-tim-kemsetneg-ri-kunjungi-somongari
Usai paparan dan dialog, dilanjutkan meninjau lokasi kelahiran WR Soepratman di Desa Somongari Kecamatan Kaligesing, didampingi Kepala Dinas P dan K, Kabag Kesra, Camat Kaligesing, Ketua Komunitas Sejarah dan budayawan Soekoso DM.
Anggota tim Prof Dr H Dadan Wildan MHUm mengungkapkan bahwa sampai saat ini tidak ada bukti faktual tentang kelahiran WR Soepratman, apakah di Somongari atau di Jatinegara. “Yang ada hanyalah penafsiran-penafsiran serta keterangan dari saksi-saksi hidup,” ujarnya.
Namun demikian, pihaknya cenderung berpegang pada putusan Pengadilan Negeri Purworejo yang telah menetapkan bahwa WR Soepratman lahir di Dusun Trembelang, Desa Somongari, Kecamatan Kaligesing Kabupaten Purworejo pada tanggal 19 Maret 1903. “Hasil sidang pengadilan itulah yang dianggap sebagai pemutus, meskipun sebenarnya sejarah tidak bisa diputuskan oleh pengadilan,” katanya.
Bupati Purworejo Drs H Mahsun Zain MAg mengungkapkan bahwa kedatangan tim dari Kemsetneg merupakan hal yang luar biasa. Karena upaya untuk meluruskan sejarah WR Soepratman ternyata mendapat respon, dengan langsung melakukan crosscek ke Purworejo.
Diungkapkan Bupati, pihaknya sudah berkirim surat ke berbagai pihak mengenai pelurusan sejarah WR Soepratman, namun hanya dua yang memberikan tanggapan dan mendukung pelurusan. “Lainnya tidak memberikan tanggapan, padahal kata orang jawa kalau diam itu berarti setuju,” selorohnya.
Ia berharap, buku-buku sejarah yang menyatakan WR Soepratman lahir di Jatinegar, bisa segera diluruskan. “Kalau kita yang membuat surat, banyak yang tidak menanggapi, tapi kalau yang membuat surat Sekretaris Negara, pasti lebih ‘mandi’,” katanya.
Sumber : http://www.purworejokab.go.id/news/seputar-olahraga/2275-susun-buku-indonesia-raya-tim-kemsetneg-ri-kunjungi-somongari
Kegiatan Hari Jadi Kab.Purworejo berlangsung 3 hari
Dalam rangka
memperingati Hari Jadi Kabupaten Purworejo yang ke 1112 tahun 2013,
panitia akan menggelar berbagai kegiatan yang berlangsung tiga hari
berturut-turut. Kegiatan tersebut akan diawali Doa Bersama pada Kamis 3
Oktober jam 13.00 WIB di Gedung Loka Adibina PKK Kabupaten Purworejo,
dilanjutkan ziarah ke Makam Bupati Purworejo Cokronegoro I, III dan IV
di Desa Bulus Kecamatan Gebang. Selain itu juga akan dilakukan ziarah ke
Makam Bupati Purworejo Cokronegoro II di Makam Kayu Lawang Kelurahan
Mudal Kec.Purwodadi.
Sedang tasyakuran dan pentas kesenian tradisional tingkat kecamatan di laksanakan Jum’at 4 Oktober di Kecamatan atau salah satu desa dimasing-masing kecamatan.
Kemudian hari
berikutnya Sabtu 5 Oktober digelar rapat sidang paripurna mendengarkan
pidato Bupati Purworejo di ruang sidang paripurna gedung DPRD Kab
Purworejo. Dilanjutkan prosesi mengenang kembali Bumi Kayu Ara Hiwang
menjadi Shima di Altar Kayu Ara Hiwang, Desa Boro Kecamtan Banyuurip
pada pukul 14.00 WIB.
Kegiatan Hari Jadi tersebut mengambil tema Dengan Semangat Hari Jadi ke-1112 Kabupaten Purworejo, Kita Bangun Semangat Kebersamaan, Persatuan Dan Kita Bangun Semangat Kebersamaan, Persatuan Dan Kesatuan, Guna Mewujudkan Purworejo Yang Berirama.
Sumber : http://www.purworejokab.go.id
Vanie, Senang Bisa Belajar Di Purworejo
Dia yang merupakan anak kedua dari tujuh bersaudara mengakui banyak perbedaan, mulai dari jam belajar sampai cara pembelajarannya. Jam belajar di Papua 07.00 s/d 12.00 sedang disini mulai jam 07.00 s/d jam 14.00. Untuk cara pembelajarannya, disini guru lebih kreatif dalam mengajar yaitu menjelaskan dan juga dengan mendekati siswa. “ Guru tidak sebatas mengajar saja tetapi ada pendekatan dari guru kepada siswanya, sehingga terjalin hubungan yang baik antara guru dengan murid,” ujar Vani yang masuk jurusan IPA.
Pada karnaval di Purworejo dalam rangka peringatan kemerdekaan RI, Vanie bersama dua temannya dari Papua sangat bangga bisa dilibatkan untuk mengikuti karnaval dengan memakai pakaian adat. Selain kegiatan itu, masih banyak kegiatan diluar sekolah yang diikuti seperti PMR, UKS, Paduan suara, Gamapala, dan lain sebagainya.
Perbedaan lain menurut Vanie, tentang masakan yang rasanya lebih manis dibanding dengan masakan di Papua. “Awalnya memang belum bisa, tetapi lama-lama setelah menyesuaikan ya sudah terbiasa dengan menu masakan disini,” ujar Vanie yang didampingi dua temannya Alfonsina dan Kobogau.
Dia yang saat ini tinggal di perumahan KBN, mengaku kadang dihinggapi rasa rindu dengan keluarga di Papua. Untuk mengatasinya, dia melakukan komunikasi lewat ponsel, untuk berbicara langsung dengan orangtuanya dan saudara-saudaranya.
Vanie yang bercita-cita ingin jadi pendeta itu, merasa senang dan bangga karena orang tua dan semua saudaranya, memberikan support dan semangat untuk melanjutkan belajar dimanapun tempatnya. “Saya ingin ilmu yang saya dapatkan di Purworejo ini, dapat saya terapkan di daerah saya agar bisa bermanfaat bagi masyarakat di Papua,” harapnya.
Sumber : http://www.purworejokab.go.id
Proyek Tahun 2010 Diresmikan
Proyek tahun Anggaran 2010 Kabupaten Purworejo berdasarkan pengelolaan belanja modal sumber dana APBD tahun anggaran 2010 sejumlah Rp. 84.999.105.050, telah diresmikan oleh Bupati Purworejo Drs H Mahsun Zain Mag di ruang Arahiwang (30/12). Peresmian tersebut ditandai dengan penandatanganan prasasti.
Kepala Bagian Administrasi Pembangunan Setda Purworejo Gandi Budi Supriyanto SSos melaporkan bahwa proyek yang diresmikan sebanyak 14 buah. Meliputi pembangunan sarana UPR Langenrejo, Relokasi Puskesmas Pembantu Krendetan, Rehabilitasi DI Ploro, pembangunan gedung alat/obat kontrasepsi, pembangunan BPP UPT Pituruh dan pelebaran jalan antara Bayan Pucangagung paket I.
Selain itu juga ditandatangani pula prasasti peresmian pembangunan sarana air bersih sederhana pedesaan desa Kaliurip, gedung rawat inap RSUD Saras Husada, ruang kelas baru dan ruang laboratorium SMK Negeri I Purworejo, serta ruang kelas baru SMK Negeri 2,4,5,7,10 Purworejo.
Lebih lanjut Gandi melaporkan Sumber dana selain dari APBD Kabupaten Purworejo, juga dari Dana Alokasi Umum sebesar, Rp.528.061.281.000, Dana Alokasi Khusus sejumlah Rp. 56.527.500.000 dan Bantuan keuangan dari Propinsi atau pemerintah daerah lainnya sebesar Rp. 21.322.943.000.
Bupati Purworejo Drs H Mahsun Zain Mag dalam sambutannya mengungkapkan, ditengah keterbatasan dan keprihatinan anggaran, pelaksanaan kegiatan/proyek dapat berjalan dengan baik dan lancar, sehingga pada saat yang telah ditentukan atau pada tutup tahun anggaran, kegiatan yang dilaksanakan akhirnya dapat diresmikan. ”Untuk itu, saya memberikan apresiasi yang tinggi khususnya kepada seluruh SKPD walaupun dalam keterbatasan anggaran, masih dapat melaksanakan kegiatan dengan baik dan maksimal, sehingga target atau capaian kegiatan dapat terpenuhi,”ungkapnya.
Kepala Bagian Administrasi Pembangunan Setda Purworejo Gandi Budi Supriyanto SSos melaporkan bahwa proyek yang diresmikan sebanyak 14 buah. Meliputi pembangunan sarana UPR Langenrejo, Relokasi Puskesmas Pembantu Krendetan, Rehabilitasi DI Ploro, pembangunan gedung alat/obat kontrasepsi, pembangunan BPP UPT Pituruh dan pelebaran jalan antara Bayan Pucangagung paket I.
Selain itu juga ditandatangani pula prasasti peresmian pembangunan sarana air bersih sederhana pedesaan desa Kaliurip, gedung rawat inap RSUD Saras Husada, ruang kelas baru dan ruang laboratorium SMK Negeri I Purworejo, serta ruang kelas baru SMK Negeri 2,4,5,7,10 Purworejo.
Lebih lanjut Gandi melaporkan Sumber dana selain dari APBD Kabupaten Purworejo, juga dari Dana Alokasi Umum sebesar, Rp.528.061.281.000, Dana Alokasi Khusus sejumlah Rp. 56.527.500.000 dan Bantuan keuangan dari Propinsi atau pemerintah daerah lainnya sebesar Rp. 21.322.943.000.
Bupati Purworejo Drs H Mahsun Zain Mag dalam sambutannya mengungkapkan, ditengah keterbatasan dan keprihatinan anggaran, pelaksanaan kegiatan/proyek dapat berjalan dengan baik dan lancar, sehingga pada saat yang telah ditentukan atau pada tutup tahun anggaran, kegiatan yang dilaksanakan akhirnya dapat diresmikan. ”Untuk itu, saya memberikan apresiasi yang tinggi khususnya kepada seluruh SKPD walaupun dalam keterbatasan anggaran, masih dapat melaksanakan kegiatan dengan baik dan maksimal, sehingga target atau capaian kegiatan dapat terpenuhi,”ungkapnya.
Terkait dengan peresmian kegiatan/proyek Kabupaten Purworejo tahun Anggaran 2010, yang diresmikan sekarang adalah peresmian kegiatan/proyek pembangunan fisik konstruksi Kabupaten Purworejo. Ia menekankan bahwa pelaksanaan kegiatan/proyek hendaknya jangan sampai menimbulkan permasalahan. ”Kegiatan/proyek yang kita laksanakan adalah untuk kesejahteraan masyarakat, sehingga kegiatan /proyek harus membawa kepentingan rakyat,”tandasnya.
PCM Kemiri Peduli
Pengurus Cabang Muhammadiyah (PCM) Kemiri melaksanakan Penyembelihan Hewan Qurban di Desa Bedono Karangduwur Kecamatan Kemiri.
Ketua penyelenggara, Birul, mengatakan walaupun kegiatan ini mengatasnamakan PCM Kemiri, namun peserta Qurban berasal dari berbagai daerah yaitu dari kecamatan Pituruh, Butuh,Grabag. Bahkan ada peserta dari Jakarta, Bogor, Sukabumi,Depok, Bandung dan Manado. Mereka berkumpul untuk melaksanakan Qurban dengan menyembelih sapi sebanyak 5 ekor.
Menurut Birul, ada tiga golongan penerima daging Qurban yaitu untuk fakir miskin, sanak keluarga dekat dan mengeluarkan Qurban maksimal sepertiga untuk yang korban. ”Tiga ini akan kami dilaksanakan sebaik-baiknya” katanya.
Dia mencontohkan, untuk satu sapi (7 keluarga qurban) akan dibagikan utuh kepada yang berhak menerima yaitu dari daging sampai tulangnya. Ini juga dalam rangka syiar, oleh karena itu, kami panitia tidak ambil, sepenuhnya kita kembalikan kepada masyarakat yang berhak menerima.
”Ini kami lakukan sejak tahun 2000 dan ini merupakan sebuah kepercayaan,” kata Birul seraya menambahkan bahwa dana juga dihimpun dari cara menabung maupun dalam kegiatan pengajian malam Jumat.
Ditambahkannya, daging sapi yang dipotong sepertujuhnya juga dibawa kepengungsian untuk dibagikan kepada korban musibah meletusnya Gunung Merapi. Pihaknya sebelumnya juga melakukan kegiatan sosial yaitu berupa memberikan bahan pangan (sembako), sayur-sayuran dan beberapa pakaian pantas pakai.
Ketua penyelenggara, Birul, mengatakan walaupun kegiatan ini mengatasnamakan PCM Kemiri, namun peserta Qurban berasal dari berbagai daerah yaitu dari kecamatan Pituruh, Butuh,Grabag. Bahkan ada peserta dari Jakarta, Bogor, Sukabumi,Depok, Bandung dan Manado. Mereka berkumpul untuk melaksanakan Qurban dengan menyembelih sapi sebanyak 5 ekor.
Menurut Birul, ada tiga golongan penerima daging Qurban yaitu untuk fakir miskin, sanak keluarga dekat dan mengeluarkan Qurban maksimal sepertiga untuk yang korban. ”Tiga ini akan kami dilaksanakan sebaik-baiknya” katanya.
Dia mencontohkan, untuk satu sapi (7 keluarga qurban) akan dibagikan utuh kepada yang berhak menerima yaitu dari daging sampai tulangnya. Ini juga dalam rangka syiar, oleh karena itu, kami panitia tidak ambil, sepenuhnya kita kembalikan kepada masyarakat yang berhak menerima.
”Ini kami lakukan sejak tahun 2000 dan ini merupakan sebuah kepercayaan,” kata Birul seraya menambahkan bahwa dana juga dihimpun dari cara menabung maupun dalam kegiatan pengajian malam Jumat.
Ditambahkannya, daging sapi yang dipotong sepertujuhnya juga dibawa kepengungsian untuk dibagikan kepada korban musibah meletusnya Gunung Merapi. Pihaknya sebelumnya juga melakukan kegiatan sosial yaitu berupa memberikan bahan pangan (sembako), sayur-sayuran dan beberapa pakaian pantas pakai.
Langganan:
Postingan (Atom)
RSS Feed
Twitter
Facebook