You Might Also Like

Tampilkan postingan dengan label Garut. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Garut. Tampilkan semua postingan

Kades Harus Mampu Menjembatani Kepentingan Masyarakat

Bupati Garut H Agus Hamdani mengingatkan Kepala Desa untuk tidak melupakan bahwa dirinya dipilih oleh masyarakat. Sebagai ujung tombak penyelenggaraan Pemerintah Daerah, seorang kepala Desa harus mampu mencurahkan segenap kemampuannya semata untuk mengabdikan diri dalam memberikan pelayan kepada masyarakat yang dipimpinnya.
Hal demikian disampaikan Bupati saat melantik dua belas Kepala Desa hasil Pemilihan Tahun 2013 di Lapangan Desa Cikarag Kecamatan Malangbong, Jumat (11/10) kemarin. Tuntutan untuk meningkatkan kemampuan dan kualitas diri menjadi suatu keharusan. Bagaimana mungkin mampu menata dan menjembatani berbagai kepentingan masyarakat di desanya, bila tidak ditunjang kemampuan.
Tugas berat yang diemban saudara akan mampu dilaksanakan dengan baik, bila saudara mampu menjalin komunikasi dan koordinasi dengan berbagai pihak, tuturnya.
Hal penting lainnya yang harus dilakukan secepatnya seorang Kepala Desa tegas Bupati, adalah menata kembali kehidupan masyarakatnya, yang dimungkinkan terjadi perpecahan sebagai konsekuensi perbedaan pilihan dalam pemilihan Kepala Desa. Jalin kembali persatuan dan kesatuan, jadikan lawan dalam pemilihan mitra dalam mengemban tugas membangun desa.
Berikut Kepala Desa yang dilantik Bupati Agus Hamdani kemarin sore; Ase Rusmana, Kepala Desa Cibunar Kecamatan Malangbong; Dede S Ali, Kepala Desa Bunisari Kecamatan Malangbong; Dudung Abdurahman Saleh, Kepala Desa Cikarag Kecamatan Malangbong; Popon Hasanah, Kepala Desa Sekarwangi Kecamatan Malangbong.
Tosim Budi Susila, Kepala Desa Sukajaya Kecamatan Cisewu; Tata, Kepala Desa Selaawi Kecamatan Talegong; Dadang Sunandar, Kepala Desa Situsari Kecamatan Cisurupan; Ahmad Zaeni, Kepala Desa Selakuray, Kecamatan Bayongbong.
Dulsukur, Kepala Desa Pasanggrahan Kecamatan Cilawu; Wawansukul Awan, Kepala Desa Nanjungjaya Kecamatan Kersamanah; Bunyamin, Kepala Desa Sukamerang, Kecamatan Kersamanah dan Iman Mulyawan, kepala Desa Bojong Kecamatan Banjarwangi.

Alat EDM Untuk Menghitung Pergerakan Gunung

Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memasang alat pemantau aktivitas gunung api berupa Electronic Distance Measurement (EDM) secara paten di Gunung Guntur, Selasa (8/10). Alat yang berfungsi untuk mendeteksi aktivitas dan perkembangan fisik Gunung Guntur ini sebelumnya dipasang dalam bentuk tripod di tiga titik, April 2013.
Alat yang dipasang di Pos Pemantauan akan menghitung pergerakan ketiga alat di Gunung Guntur sebagai target untuk menghitung pergerakan gunung. Hal ini pun bisa berkaitan dengan aktivitas kegempaan gunung terbesar di Garut tersebut.
“Yang jelas saat ini status gunung masih waspada. Warga diminta untuk tidak mendekati Gunung Guntur dengan radius dua kilometer dari puncak gunung. Permukiman dan tempat wisata masih aman,” kata Petugas Pos Pemantauan Gunung Guntur pada PVMBG, Aam Mahmud, Selasa (8/10).
Sejak status Gunung Guntur kembali meningkat dari Normal menjadi Waspada, Jumat (30/8), terjadi tiga kali gempa tremor, yakni pada 30 Agustus 2013 pukul 08.20-14.50. Gempa tremor kembali terjadi pada 13 September 2013 selama enam jam, dan pada 2 Oktober 2013 selama 2 jam.
Selama Agustus-Oktober 2013, ucapnya, aktivitas Gunung Guntur cenderung fluktiatif. Pada 16 September, terjadi lonjakan jumlah kegempaan, yakni gempa vulkanik dalam sebanyak 6 kali dan 22 gempa vulkanik dangkal. Pada 7 Oktober, terjadi 1 kali gempa vulkanik dalam dan 6 kali vulkanik dangkal. Sedangkan, gempa tektonik terus terjadi dengan kisaran 1-4 kali sehari.
“Kami terus memantau perkembangan aktivitas gunung api ini. Alat-alat untuk mendeteksi gerakan gunung sudah sangat canggih dan cukup lengkap. Petugas pos sedang ke gunung, memasang alat-alat refraktor pendeteksi aktivitas ini,” ucapnya.

Sumber : http://www.garutkab.go.id/

Garut Butuh 3500 Sapi untuk Idul Adha

Kabupaten Garut, Jawa Barat, membutuhkan sebanyak 3500 sapi potong dari luar daerah Garut untuk memenuhi kebutuhan warga menunaikan ibadah kurban di hari raya Idul Adha.
“Untuk tahun ini berdasarkan tahun sebelumnya diperkirakan kebutuhan sapi kurban sebanyak 3.500 ekor sapi,” kata Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Masyarakat Veteriner, Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelautan Kabupaten Garut, Iman Budiman kepada wartawan, Selasa (1/10).
Ia menuturkan, berdasarkan perhitungan Idul Adha tahun sebelumnya kebutuhan sapi kurban untuk Garut mencapai 5.225 ekor. Dari jumlah tersebut, 70 persen didatangkan dari luar daerah dan sisanya berasal dari Garut.
Ia menjelaskan, Garut sementara baru mampu memenuhi kebutuhan sapi sebanyak 1500 sampai 2000 ekor sehingga untuk memenuhi kebutuhan kurban didatangkan dari luar daerah seperti Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Jenis hewan lainnya seperti kerbau, kata Iman, disiapkan kebutuhannya sebanyak 250 ekor, turun dari jumlah tahun sebelumnya sebanyak 287 ekor kerbau.
Kebutuhan kerbau tersebut, kata dia, Garut baru mampu menyediakan sebanyak 100 ekor, sisanya 150 ekor didatangkan dari luar daerah. “Kebutuhan kerbau juga masih kurang, tapi untuk domba sudah terpenuhi, bahkan domba dari Garut mampu memasok untuk luar daerah,” katanya.

Selamatkan Lingkungan Dengan Lubang Biopori

Seiring dengan pesatnya pembangunan serta kurang terpeliharanya kelestarian lingkungan, membuat resapan air dari waktu ke waktu kian berkurang. Untuk menjaga keberadaan daerah resapan air, Fakultas Teknologi Industri Pertanian (FTIP) Universitas Padjadjaran (Unpad) mengkampanyekan gerakan sejuta lubang biopori di Kabupaten Garut.
Kampanye sejuta lubang biopori oleh FTIP Unpad di Kabupaten Garut itu dilakukan selama dua hari, Sabtu-Minggu (28-29/9/2013). Kegiatan dilakukan di sejumlah titik di kawasan Kecamatan Samarang.
Menurut Ketua BEM FTIP Unpad, Asep Karnida, pada rangkaian kegiatan tersebut pihaknya membagikan sedikitnya 20 alat pengebor untuk membuat lubang biopori. Alat pembuat lubang itu di antaranya diberikan kepada 13 sekolah dasar di 10 titik wilayah Kecamatan Samarang. Selain itu, diberikan juga pelatihan terhadap para guru tentang bagaimana cara membuat dan memelihara lubang biopori.
“Hal ini lebih kami tujukan agar para anak didik mengerti tentang pemeliharaan lingkungan, di antaranya melalui pembuatan lubang biopori,” ujar Asep yang ditemui di sela kegiatan “Sosialisasi Gerakan Sejuta Lubang Biopori” di Desa Sukalaksana, Kecamatan Samarang, Sabtu (28/9/2013).
Dikatakannya, meskipun kegiatan ini bertajuk gerakan sejuta biopori, namun kegiatan selama dua hari ini baru berupa kampanye dan pelatihan. Setel­ahnya, diharapkan warga dapat membuat lubang biopori lebih banyak dan menyosialisasikannya lebih luas ke warga lainnya.
Dituturkannya, biopori merupakan salah satu upaya menjaga lingkungan agar terhindar dari dampak bencana alam seperti banjir dan menambah cadangan air tanah. Pembuatan biopori di beberapa titik tertentu dapat memberikan dampak agar air hujan dengan mudah terserap kedalam tanah.
Asep juga menilai, pembuatan biopori di daerah dataran tinggi wilayah Garut juga sangat penting untuk menjaga ketersediaan air dan memudahkan air hujan terserap kedalam tanah. Program pembuatan sejuta biopori ini bukan hanya dilakukan di Kabupaten Garut namun juga sudah dan akan dilaksanakan di beberapa daerah lainnya di Jawa Barat.
Ketika ditanya kenapa di Garut daerah yang dipilih adalah kawasan Kecamatan Samarang, dia menjelaskan hal itu didasarkan pada fungsi biopori untuk memaksimalkan penyerapan air ke tanah dan menyuburkan tanah karena menghasilkan pupuk organik sebagai hasilnya.
Selama ini, walaupun terdiri atas banyak lahan terbuka hijau berupa kebun sayuran, namun tingkat penyerapan air di Kecamatan Samarang dinilainya masih kurang. Air terus dialirkan ke kawasan hilir untuk lahan pertanian. Padahal, resapan air di kawasan ini pun terganggu oleh mulai banyak­nya permukiman.
Masih menurut dia, jika warga Desa Sukalaksana dapat menyukseskan program sejuta biopori ini, maka mereka akan diundang untuk memberikan kuliah umum di kampus Unpad. Dengan demikian, aksi warga untuk menjaga lingkungan ini dapat menginspirasi warga lainnya.

Sumber : http://www.garutkab.go.id/

Desa Hasilkan Keuangan Sendiri

Pemkab Garut kini tengah mencanangkan desa mandiri atau otonomi desa. Pemerintahan desa yang bisa menghasilkan keuangan sendiri sehingga tidak tergantung pada APBD dan APBN itu diharapkan terealisasi pada 2014 mendatang.
Demikian diungkapkan Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (BPMPD) Kab. Garut, H. Wawan Nurdin, S.Sos., saat dihubungi wartawan, Minggu (29/9).
“Langkah awal yang tengah dilakukan, yakni pembuatan profil desa sebagai input data di Kab. Garut. Profil desa itu isinya menggambarkan kondisi desa secara detail. Nantinya, data tersebut akan dimasukkan ke dalam situs internet agar bisa diakses kapan saja,” jelas Wawan.
Lebih jauh pria berkumis tebal ini mengatakan, upaya menuju desa mandiri juga salah satunya dengan melakukan pembinaan terhadap para sekretaris desa (sekdes) agar lebih memahami administrasi. Bahkan, dari 421 sekdes yang ada 255 di antaranya sudah diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Sedangkan sisanya akan disesuaikan kemudian. Yang pasti, seluruh sekdes akan dijabat oleh PNS.
“Pemerintah memberikan upah terhadap sekdes tentu bukan tanpa maksud, melainkan menghendaki agar administrasi desa lebih tertib. Kendati demikian, tidak seluruhnya sekdes yang sekarang menjabat bisa diangkat menjadi PNS. Sebab ada ketentuan yang mengaturnya seperti faktor usia dengan batas maksimal 51 tahun, serta masa kerja hingga 15 Oktober 2004,” katanya.
Tanah kas desa
Dikatakan, langkah selanjutnya adalah melakukan pendataan tanah kas desa (carik desa). Tanah tersebut harus dioptimalkan supaya lebih bermanfaat bagi warga desa. Tanah kas desa diberdayakan sesuai dengan keadaan lingkungan setempat misalnya dijadikan areal pertanian, peternakan, pariwisata atau apa saja yang bisa menghasilkan income untuk desa. Pengoptimalan tanah kas desa bisa bekerjasama dengan instansi terkait seperti dinas tanaman pangan dan hortikultura, Dinas Peternakan maupun Dinas Pariwisata.
Untuk menertibkan anggaran keuangan desa, selanjutnya pemerintahan desa menyusun Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) yang disempurnakan melalui peraturan desa (perdes). Dengan demikian, desa akan menjelma pemerintahan dengan ruang lingkup yang lebih kecil, namun lebih mandiri. Pemerintah desa bisa menghidupi rumah tangganya dengan anggaran yang diperoleh dari potensi alamnya sendiri.
“Di Kab. Garut banyak potensi alam yang belum tergali sehingga belum bisa dimanfaatkan secara optimal. Padahal, kekayaan alam tersebut bisa menjadi sumber pendapatan bagi desa yang bersangkutan. Target itulah yang salah satunya sedang kami upayakan. Namun tentunya harus melalui berbagai tahapan, dengan langkah awal dimulai dari pembentukan profil desa,” pungkasnya.

Sumber : http://www.garutkab.go.id
 

Menjadikan Teman Satwa Cikembulan Gagasan Refleksi 2010

Teman maupun sahabat satwa langka dan dilindungi undang-undang, di Taman Satwa Cikembulan Kecamatan Kadungora Kabupaten Garut, Jawa Barat, menggagas perhelatan “refleksi 2010”, pada malam pergantian tahun baru.

Teman satwa tersebut, merupakan kelompok wartawan yang selama ini peduli dan “concern” terhadap perlindungan satwa langka di Tanah Air, mereka antara lain Deni Tajuk, Jay, Irwan Rudiawan serta Nova Nugraha.

Sedangkan penyelenggaraan refleksi 2010, antara lain dimaksudkan sebagai wahana evaluasi sekaligus hiburan sehat, dengan mendatangkan sejumlah artis ternama menjelang malam pergantian tahun, ungkap Manager Taman Satwa tersebut, Rudy Arifin, SE kepada Garut News, Jumat.

Taman Satwa ini, dihuni sekurangnya 117 spisies berpopulasi 523 ekor, termasuk sepasang Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatrae) serta sepasang Beruang Madu juga beragam jenis mamalia, reptil dan burung.

Bahkan kini dilengkapi sarana therafi ikan, juga diagendakan dapat mendatangkan spisies buaya putih, malahan juga berobsesi bisa segera mendatangkan sepasang “Komodo” (varanus comodoensis), satwa purba sangat langka di dunia.
Sehingga pengelola taman satwa satu-satunya di Provinsi Jawa Barat itu, termasuk rekan atau Teman Satwa, gencar mengemas beragam upaya agar berhasil dapat mendatangkannya.

Obsesinya itu, kata dia, selain untuk mendukung “Komodo Sebagai Tema Wisata Nasional 2011”, juga sebagai apresiasi Taman Satwa Cikembulan atas keberadaan Komodo pada ajang “New Seven Wonders of Nature” bersama 28 finalis lain di berbagai dunia, katanya.

Menyusul Satwa purba yang dipercaya sebagai “dinosaurus terakhir di muka bumi” ini, dipastikan pula keberadaannya di Cikembulan bisa sekaligus menjadikan Kabupaten Garut dilirik masyarakat dunia.

Karena itu, Rudy Arifin berharap, berbagai pihak dapat mendukung kelancaran mewujudkan obsesinya tersebut, sebab taman satwanya itu sejak dioperasionalkan pada 9 Agustus 2009, hingga kini didatangi lebih dari 300 ribu pengunjung, katanya.

Advertisements

YOUR GOOGLE ADSENSE CODE HERE (300x250)

Advertisements

YOUR GOOGLE ADSENSE CODE HERE (300x250)