You Might Also Like

Tampilkan postingan dengan label Bandara Soekarno Hatta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bandara Soekarno Hatta. Tampilkan semua postingan

TKI Harus Menunggu 2 Jam di Terminal Khusus



Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Mohammad Jumhur Hidayat mengakui bahwa para TKI yang menggunakan jalur Terminal Khusus TKI pulangnya lebih lama.

Jumhur menerangkan, para TKI pulang lama dikarenakan menunggu bus travel sampai penuh. "Tetapi dari rata-rata itu tidak sampai dua jam mereka menunggu. Disini disediakan tempat untuk beristirahat," ujar Jumhur kepada wartawan usai buka bersama dengan TKI di Terminal Khusus TKI, Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Rabu (31/7/2013) malam.

Jumhur mengungkapkan, ada juga TKI yang sengaja menginap di Terminal khusus TKI karena menunggu pesawat. "Karena dari sini enggak semuanya naik travel tapi pesawat," ujarnya.

Jumhur juga mengatakan ada TKI yang pulang ke daerah asalnya dengan menggunakan Kapal laut. "Kadang naik kapal. Itu bisa 3-4 hari nunggunya. Jadi macam-macam alasan mereka lama di sini," terangnya.


 

TKI Tak Perlu ke Terminal IV



Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten memiliki empat buah terminal untuk mengatur penerbangan. Terminal I khusus untuk penerbangan domestik, Terminal II dan III Untuk penerbangan domestik dan internasional. Sedangkan Terminal IV merupakan terminal khusus TKI. Para TKI yang baru tiba dari negara tempat mereka bekerja, biasanya transit ke Terminal IV untuk di data oleh BNP2TKI.
Terminal IV terletak di daerah Selapajang, Tangerang, Banten. Kondisinya agak seram jauh berbeda dibandingkan dengan tiga terminal lainnya, kondisi Terminal IV beda dengan terminal lainnya.
Selain tempatnya paling jauh dibandingkan terminal yang lain, di sini tertutup pagar besi. Pintu gerbang dijaga dua petugas satpam. Di sini hanya tersedia satu tempat makan yang lokasinya dekat gerbang masuk. Situasi di halaman depan terminal sangat sepi.
Untuk bisa mencapai Terminal IV harus menggunakan kendaraan pribadi atau ojek yang biasa mangkal di setiap terminal atau di Pintu M1 yang merupakan gerbang masuk ke Bandara. Para tukang ojek pun tidak segan meminta tarif tinggi bila ada penumpang yang ingin kesana.
"Tarifnya Rp 30 ribu, Mas. Udah biasa itu. Soalnya jauh tempatnya," kata Parmin, salah satu tukang ojek kepada Warta Kota di Terminal II Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (18/6).
Sementara petugas Humas Angkasa Pura II Bandara Soekarno Hatta, Yudis Setiawan mengatakan, tidak setuju bila tempat khusus TKI tersebut disebut terminal. "Bukan. Terminal itu kan harus ada aktifitas dan rute penerbangan. Tempat itu merupakan tempat penampungan dan pendataan TKI," ujar Yudis Setiawan, saat dihubungi Wartakota.
Ia mengatakan tempat tersebut bukan diurus oleh pihaknya melainkan oleh Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans) dan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI). "Yang mengurus tempat itu bukan Angkasa Pura II melainkan Kemenakertrans dan BNP2TKI," katanya.
Staf Khusus Mennakertrans Bidang Tenaga Kerja, Dita Indah Sari mengatakan, para TKI yang baru pulang dari luar negeri tidak perlu melalui terminal ini. Namun dia tak menampik masih banyak TKI yang tiba dari luar negeri kemudian transit ke Terminal Selapajang. Menurutnya, sosialiasi Permennakertrans 16/2012 kepada TKI memang masih harus digalakkan. "Bisa jadi memang sosialisasi masih kurang, karena peraturan ini juga masih terbilang baru," bilang Dita.
Menurut Dita, TKI yang memilih transit karena memiliki beragam masalah. "Bisa saja para TKI itu transit ke Selapajang karena beragam alasan, seperti kepulangannya bermasalah, nggak dijemput keluarganya, atau datangnya tengah malam," ucapnya.
Masih penting
Sementara itu, meski para TKI tak wajib lagi melalui Terminal Selapajang, menurut Dita keberadaan terminal di bawah naungan BNP2TKI itu masih penting. "Sekarang kan fungsinya sudah dibatasi, tetapi di sana juga ada fasilitas-fasilitas penting untuk TKI, seperti fasilitas dokter, ambulans, bisa menginap, ada fasilitas konter asuransi. Kalau ada masalah tinggal kesitu," kata Dita.
Mengapa fasilitas-fasilitas itu tak dipindahkan saja ke Terminal 2D? "Bisa saja dipindah ke Terminal 2D fasilitasnya, tetapi kan selama ini sudah ada di Termonal 4. Kita kan nggak mau campur antara yang bermasalah dengan yang tidak," ujar Dita.
Menurut Dita, untuk memberantas praktik pungli yang ditengarai terjadi di Terminal 4, tak harus dengan cara menghilangkan atau menghancurkan terminal tersebut. "Jika ada orang yang bermasalah di dalam sebuah kelurahan, kan bukan berarti satu kelurahan itu harus dihancurkan, melainkan orangnya yang harus dicari. Begitu juga di Terminal Selapajang. Bukan terminalnya yang ditiadakan, tetapi membasmi oknum yang berbuat kejahatan di sana. Selama ini kita konsisten membasmi pungli," kata Dita. (m13/gps)

Sumber: Warta Kota Edisi Rabu, 19 Juni 2013
Sumber : http://wartakota.tribunnews.com/

Calo Bandara Keruk Rp 1,5 Miliar


Asep (40) dan Burhan (38), warga Subang, Jawa Barat, terpaksa menggunakan jasa calo Terminal 2D, Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta), Cengkareng, Tangerang, Banten agar kerabatnya, Yeni (28), tenaga kerja wanita (TKW) asal Subang, Jawa Barat, bisa langsung pulang, Rabu (12/6).
Yeni yang sudah sembilan tahun terkurung di Arab Saudi, Rabu (12/6) pekan lalu mendarat di Bandara Soetta. Selain Asep dan Burhan, ada empat keluarga lain yang ikut menjemput Yeni. Dengan membayar Rp 500.000, Yeni yang turun dari pesawat Fly Emirates, tak lagi digiring ke Terminal IV dulu untuk menjalani pemeriksaan di sana, melainkan bisa langsung pulang bersama keluarganya. "Kasihan kalau harus menunggu lama di Terminal IV, soalnya ada yang bilang bisa lebih dari 5 jam menunggunya," kata Asep.
Betul saja, sekitar pukul 14.00, Asep dan keluarga lain yang menunggu di Terminal 2D melihat Yeni dikawal dua orang petugas berpakaian safari muncul dari dalam terminal. Begitu tiba di parkiran mobil, perempuan yang mengenakan jilbab ini lekas menghampiri keluarganya sambil menangis.
Yeni juga terkaget-kaget melihat dua anak adiknya yang sudah besar. Dia mencium kedua anak yang kelihatan kebingungan saat melihat Yeni. Terang saja bingung, kedua anak itu belum lahir saat Yeni terbang ke Arab Saudi.
Sementara Yeni berpeluk-pelukan, Asep memberikan lima lembar uang pecahan ratusan ribu kepada kedua pengantar Yeny. Setelah itu, Yeni segera masuk mobil. Tak mau berlama-lama, dia pun meminta untuk segera pergi.
Yeni dan keluarganya itu hanyalah salah satu Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang terpaksa harus membayar calo agar bisa langsung keluar terminal tanpa harus berlama-lama menunggu. Menurut informasi, setiap harinya minimal 100 TKW/TKI tiba di Bandara Soetta. Para TKW/TKI itu umumnya memakai jasa calo agar bisa segera keluar bandara.
Dengan demikian, kalau dijumlahkan maka dalam sehari para calo akan memperoleh 100 X Rp 500.000=Rp 50.000.000 atau dalam sebulan sekitar Rp 1,5 miliar. "Itu kalau kita rata-rata 100 TKI/TKW yang datang sehari, tetapi sebenarnya jumlahnya lebih besar dari itu," ujar sumber Warta Kota saat ditemui di bandara pekan lalu
Sudah dihapus
Menurut keterangan yang diperoleh Warta Kota, peraturan TKI dari barutiba di Bandara Soetta harus dibawa ke Terminal IV setelah mendarat sebenarnya sudah dihapus sejak Oktober 2012. Aturan itu dihapus pemerintah guna menghilangkan praktik percaloan. Kini hanya TKI yang sakit atau pulang meninggal saja yang harus dibawa ke Terminal IV.
Namun, meski aturan itu sudah dihapus, praktik percaloan masih tetap subur. Modus-modus lama pun masih dilakukan. Tapi incarannya kini adalah TKI yang baru pertama kali pulang dan belum mengerti aturan tersebut.
Tak adanya informasi soal aturan bahwa para TKI tak perlu ke Terminal IV lebih dulu dimanfaatkan para calo-calo ini untuk melakukan praktik kurang terpujinya.
Dalam praktiknya, para calo dan petugas bandara berkomplot untuk mensamarkan informasi bahwa TKI bisa keluar langsung di Terminal 2D. Makanya kemudian TKI menggunakan jasa calo agar mereka bisa keluar melalui Terminal 2D dengan syarat membayar antara Rp 500.000-Rp 700.000.
Karena bekerja sama dengan oknum petugas di Terminal 2D, sehingga para calo yang penampilanya perlente itu bisa dengan bebas masuk sampai ke lokasi pengambilan barang penumpang. "Kalau misalnya Mas mau keluarkan sepupu atau saudara, saya bisa saja berikan nomor ponsel teman saya yang bertugas di Terminal 2D. Tapi, nantinya teman saya ini akan mengarahkan Mas untuk berkomunikasi dengan calo. Doyan duit semua petugas di sana (bandara)," kata sumber Warta Kota di Terminal IV, Jumat (14/6) malam.
Ada dua cara mengelabui TKI yang baru pertama kali pulang ke Indonesia di Terminal 2D. Cara pertama adalah melalui calo-calo yang berkeliaran di tempat pengambilan barang. Mereka akan menakut-nakuti TKI baru dan menceritakan repotnya kalau mesti ke Terminal IV dulu.
Tapi, sebenarnya informasi dari calo inipun tak terlalu salah, sebab sistem angkutan di Terminal IV memang kacau. Seorang TKI yang sudah mendarat sejak pagi hari baru bisa keluar dari Terminal IV pada malam hari. Penyebabnya, angkutan Travel hanya mau mengangkut apabila jumlah penumpang sudah ada di batas maksimal, yakni 10 orang dan semuanya ke tujuan kota yang sama.
Makanya, TKI kemudian banyak memilih keluar di Terminal 2D setelah mendengar cerita itu. Ironisnya petugas bandara pun banyak yang ikut-ikutan mengelabui TKI.
Namun, bagi TKI yang sudah tahu soal aturan tersebut, petugas maupun para calo tak berani lagi memengaruhinya. "Yang penting tegaskan pada mereka bahwa aturan itu tidak ada lagi," kata sumber Warta Kota.
Dekati keluarga
Kemudian modus kedua para calo beraksi di luar terminal. Calo-calo ini akan mendekati keluarga-keluarga TKI yang datang menjemput ke bandara. Seperti yang dialami Asep dan Burhan. Mereka akan mengelabui keluarga TKI bahwa semua TKI harus ke Terminal IV lebih dulu. Apabila mau keluar di Terminal 2D harus menggunakan jasa mereka (calo,-red).
Bagi keluarga yang percaya akan memakai jasa calo tersebut. Apabila sudah setuju, keluarga akan diminta nama TKI dan pesawatnya. Begitu turun calo sudah menjemput dan mengarahkan TKI. Calo yang mencari order dari keluarga ini nantinya akan memberi informasi ke calo yang berada di dalam Terminal 2D.
Diakui Kemennakertrans
Pihak Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemen­nakertrans) mengakui masih ada praktik pungutan liar (pungli) di areaal Bandara Soetta terhadap TKI yang baru datang dari negara tempatnya bekerja. "Hingga kini pengaduan pungli soal para TKI dimintain uang memang banyak," kata Staf Khusus Mennakertrans Bidang Tenaga Kerja, Dita Indah Sari, kepada Warta Kota, Jumat (14/6).
Dita tak mau berspekulasi apakah pungli itu dilakukan oleh petugas bandara atau oknum Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) yang bertugas di bandara. Yang jelas, tuturnya, kejahatan itu dilakukan oknum tak bertanggungjawab. "Oknum seperti itu memang harus dibasmi," ucapnya.
Menurut Dita, praktik pungli terhadap TKI di bandara bukan hal baru. Kemennakertrans dan BNP2TKI, katanya, tetap berusaha memberantas praktik kotor ini.
Ia pun mengajak TKI yang menjadi korban agar ikut membasmi praktik pungli dengan cara melaporkannya ke petugas. "Kalau ada praktik seperti itu, TKI harus melaporkan identitas pelakunya, kapan kejadiannya, dan jenis punglinya seperti apa," ujar mantan aktivis buruh itu.
Masalahnya, lanjut Dita, meski pihaknya dan BNP2TKI sering menerima laporan praktik pungli, para korban kerap kali tak menyertakan identitas oknum yang melakukan pemerasan. "Seringkali mereka (TKI) nggak bisa menjelaskan identitas pelakunya. Ini yang membuat kita agak kesulitan untuk menindak pelaku pungli itu," ujarnya. (ote/gps/m13)

Sumber: Warta Kota Edisi Senin, 17 Juni 2013
Sumber : http://wartakota.tribunnews.com

Advertisements

YOUR GOOGLE ADSENSE CODE HERE (300x250)

Advertisements

YOUR GOOGLE ADSENSE CODE HERE (300x250)