You Might Also Like

Tampilkan postingan dengan label Gunung Kidul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gunung Kidul. Tampilkan semua postingan

Pantai Ngrenehan Gunungkidul, Keindahan Yang Tersembunyi


http://gunungkidulonline.com/wp-content/uploads/2013/06/pantai-Ngrenehan.jpgWisata Pantai Gunungkidul selalu tak habis untuk dibahas. Karena akan selalu ada cerita indah dan pemandangan menarik untuk dikisahkan. Kali ini gunungkidulonline.com akan mengulas tentang pantai Ngrenehan. Pantai Ngrenehan merupakan pantai nelayan. Terletak di desa Kanigoro Kecamatan Saptosari kurang lebih 30 km di sebelah selatan kota Wonosari. Suatu pantai berupa teluk yang dikelilingi hamparan perbukitan kapur dan memiliki panorama yang sangat memukau dengan deburan ombak menerpa pasir putih. Para wisatawan dapat menyaksikan aktivitas kegiatan nelayan dan menikmati ikan siap saji atau membawa ikan segar sebagai oleh-oleh.

Jalan menuju ke Pantai Ngrenehan sungguh menantang. Kita akan melewati jalan yang berliku-liku, naik dan turun. Mungkin salah satu sebab pantai ini masih rapi dan alami adalah, jalan menuju pantai ini masih alami juga. Berliku-liku dan berkelok-kelok, jadi nggak banyak wisatawan yang berkunjung ke pantai ini.

Menurut sejarah, nama Ngrenehan merupakan pemberian Raja Demak yang bernama Raden Fatah, putra dari Prabu Brawijaya V. Prabu Brawijaya V sendiri adalah raja Majapahit yang memerintah tahun 1464-1478 M. Suatu ketika Raden Fatah datang ke kawasan ini untuk mencari ayahnya yang melarikan diri bersama dua orang istrinya (Dewi Lowati dan Bondang Surati) karena enggan untuk memeluk agama Islam.
pantai-NgrenehanTapi, saat tiba di kawasan ini, Raden Fatah nggak menemukan mereka. Akhirnya, ia mengajak para petinggi-petinggi Kerajaan Demak untuk berembuk (musyawarah) tentang bagaimana cara menemukan orang tuanya. Dari peristiwa inilah muncul istilah pangrena yang berarti ajakan. Kata pangrena berasal dari kata reneh yang berarti sini. Kemudian masyarakat di sekitar kawasan ini mengubahnya menjadi ngrenehan yang berarti kemarilah ke sini. Kata reneh yang diberi awalan ng dan akhiran an berarti menunjuk pada suatu tempat, yaitu Pantai Ngrenehan.

Ombak di Pantai Ngrengehan ini tidak terlalu besar. Oleh karena itu cukup aman untuk berenang dan menangkap ikan. Pasirnya putih dan lembut. Di sini terdapat TPI (Tempat Pelelangan Ikan) yang cukup ramai. Jika kita datang pagi, kita dapat belanja aneka ikan segar yang baru dibawa oleh nelayan di sini. Di sekitar pantai banyak terdapat rumah makan dengan menu ikan segar. Kita dapat memilih ikan yang kita inginkan di sini. Harganya tak terlalu mahal karena langsung dibeli dari nelayan. Ikan goreng dan sambalnya sangat layak untuk dicoba.

Di utara pantai Ngrenehan, terdapat bukit karang. Bukit ini unik karena karangnya persis koral yang ada di laut. Bahkan, terlihat banyak cangkang kerang kecil berserakan di sini.

Bagi anda yang akan mengunjungi pantai ini, anda dapat mengikuti papan petunjuk menuju Pantai Ngrenehan. Melewati mata air Namberan Trowono,kemudian di teruskan di Kanigoro, Saptosari. Tidak lama kemudian, ada pertigaan dengan papan penunjuk arah: ke kanan Pantai Ngobaran, dan ke kiri Pantai Ngrenehan. Ikutilah papan petunjuk tersebut, dan tibalah Anda di pantai eksotis ini.

Biaya tiket masuk ke kawasan Pantai Ngrenehan sebesar Rp 3.000,00. Harga tiket ini termasuk biaya masuk ke kawasan wisata Pantai Ngobaran karena satu jalur dengan Pantai Ngrenehan. Jadi, dengan hanya membayar Rp 3.000,00, kamu bisa menikamati pesona dua kawasan pantai sekaligus.

Teknologi Pompa Surya untuk Daerah Rawan Air



Warga Gunung Kidul Memanfaatkan Teknologi Pompa Surya Untuk Mengangkat Air Di Daerah Krisis Air
Delapan desa di wilayah kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, masuk kategori daerah rawan air. Curah hujan yang rendah dan tidak sebanding dengan luas wilayah menyebabkan keberadaan sumber air baku di Gunung Kidul tidak merata. Jikapun ada sumber air baku, umumnya belum memenuhi syarat sebagai air minum hingga memerlukan penanganan khusus. 

Selain itu topografis daerah Gunung Kidul yang berbukit-bukit, membutuhkan investasi yang besar dalam pembangunan sarana air bersih. Demikian dikatakan pengurus Satuan Kerja Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum (Satker PK PAM) DIY Hadianto Hadiwidjaja dalam diskusi hasil kajian pendayagunaan iptek masyarakat di Fakultas Teknik UGM, Kamis (1/11/2012) kemarin. 

Hadir dalam diskusi itu, Kepala Bidang Transfer Iptek Kemenristek, Ari Hendrarto, Peneliti Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan (Pustek), Putut Indriyono, Peneliti Energi Terbarukan, Ahmad Agus Setiawan, dan Peneliti Teknik Hidro Darmanto. " Ada delapan desa yang masuk kategori daerah rawan air di Gunung Kidul. Satker PK-PAM DIY pada tahun 2013 akan membangun sarana sistem air bersih di beberapa desa tersebut dengan target pelayanan kurang lebih 7.000 jiwa," kata Hadianto. 

Untuk mendukung rencana tersebut, lanjut Hadianto, dibutuhkan teknologi pompa air tenaga surya. "Teknologi ini merupakan salah satu solusi yang baik untuk menggangkat air di daerah yang sulit air dan belum terjangkau jaringan listrik," lanjut Hadianto. 

Saat ini, sudah ada dua daerah di Gunungkidul yang telah memanfaatkan teknologi pompa tenaga surya untuk mengangkat air. Yaitu di Dusun Banyumeneng, Desa Giriharjo, Panggang, dan di Dusun Sureng, Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus. "Di Banyumeneng dibangun sejak 2009 dan masih berjalan. Sedangkan di Tepus baru dibangun tahun ini," katanya. 

Menurut Agus Setiawan, teknologi pompa surya di Banyumeneng masih tetap bertahan dan berjalan hingga saat ini karena setelah pembangunan selesai, segera dibentuk pengurus pengelola air. Pengurus inilah yang mengatur pola pembagian air dan membiayai perawatan pompa dan panel surya. "Keluhan yang sering disampaikan masyarakat adalah kecilnya debit air yang mampu diangkat. Padahal hal itu sangat bergantung pada tingkat pancaran panas sinar matahari yang berhasil diserap dan sisimpan panel surya. 50 persen masyarakat menginginkan sistem ini digabung dengan listrik agar debit air semakin besar," katanya. 

Sementara, Ari Hendrarto dari Kementerian Riset dan Teknologi menegaskan Kemenristek akan terus menggelontorkan dana untuk mendukung pembangunan sarana air bersih di daerah sulit air di DIY. Salah satunya, pemanfaatan energi surya untuk menggerakan pompa air untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan air bersih.

"Tahun 2013 kita tetap mengalokasikan anggaran untuk itu. Ristek tetap berkomitmen bahwa teknologi harus didekatkan ke masyarakat," katanya. 

Sumber : kompas.com


Teknologi Organik Pangan Lokal Dikembangkan di Gunung Kidul


Bahan makanan organik
Pangan lokal ditanam secara organik tidak pernah disemprot atau dipupuk kimia. Institut Pertanian Bogor (IPB) bersama warga setempat berupaya mengembangkan teknologi organik pangan lokal di wilayah Gunung Kidul, Yogyakarta, yang terkenal tandus.  

"Kebanyakan pangan lokal ditanam secara organik (by nature atau by neclected), tidak pernah disemprot atau dipupuk kimia," kata Pakar pangan dan gizi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Dr Ahmad Sulaeman, di Yogyakarta, kemarin. 

Menurut Ahmad, pangan lokal memiliki banyak keuntungan selain beberapa keterbatasan. "Pangan lokal juga dapat diandalkan untuk membantu dalam pemenuhan kebutuhan gizi keluarga terutama untuk 1000 hari pertama dalam kehidupan," tutur dia.

Pangan lokal, kata Ahmad, kaya akan aneka zat gizi dan metabolit sekunder seperti antosianin, karotenoid, glucosinolat. Selain itu, bebas dari antibiotik dan hormon. Pangan lokal juga kaya rasa. "Pangan lokal perlu diperbaiki kekurangannya dan diangkat keunggulannya serta dikampanyekan," tandas dia.

Terkait berkembangnya pangan lokal di Gunung Kidul,  menyebutkan, ada 11 alasan memilih pangan lokal. Pertama, untuk memastikan membeli produk yang aman dan dapat ditelusur produksinya. Kedua, untuk mendapatkan pangan yang alami, organik, non GMO, dan menyehatkan. 

Ketiga, untuk memperoleh nilai-nilai baik dan khasiat. Keempat, untuk makan "the view of Gunung Kidul". Kelima, untuk menyokong tradisi Gunung Kidul. Keenam, untuk memotong jarak makanan (food miles). Ketujuh, mendukung ekonomi pedesaan (rural economy).

Kedelapan, untuk mendukung bisnis keluarga/UKM. Sembilan, mendukung ketahanan, kemandirian dan kedaulatan pangan serta mampu memenuhi kecukupan gizi keluarga. Ke-10, rasanya benar-benar kaya dan enak (eco) dan ke-11 belanja lokal belanja Gunung Kidul.

Sumber : beritasatu.com



Advertisements

YOUR GOOGLE ADSENSE CODE HERE (300x250)

Advertisements

YOUR GOOGLE ADSENSE CODE HERE (300x250)